Merasa diri paling mulia…

berbangga-diri

Bismillaahir rahmaanir rahiim

sahabatku sayang…

di riwayatkan dari abu hurairah r.a., ia berkata :
suatu ketika rasulullah berdiri di dalam shalat sedangkan kami berdiri bermakmum di belakangnya, tiba-tiba seorang arab baduwi yang juga ikut shalat berdoa dengan keras, ‘allaahumma….. ahadaa.’
(ya allah! sayangilah saya dan Muhammad. janganlah kau sayangi orang lain lagi).

seusai salam, nabi bersabda kepada orang baduwi itu;
“kamu benar-benar mempersempit hal yang sangat luas.”

duhai sahabatku yang dirahmati oleh allah ta’ala…

sesungguhnya memohon & berdoa kepada allah ta’ala merupakan amalan yang di wajibkan bagi setiap hamba namun allah & rasul-nya tidak pernah memerintahkan untuk melafazkan mohon & doa yang buruk atau celaka.

oleh karena itu waspadailah perkara ini dengan keimanan bahwa mohon & doa hanya untuk kebaikan yang haqq saja. sebab yakinlah bahwa setiap niat & perbuatan b.u.r.u.k. senantiasa kembali kepada pemilik yang menghendakinya.

Pendapat Syaikh Ahmad Rifai seiring dengan hadith Nabi SAW yang diriwatakan oleh Imam Tabrani, sebagaimana yang telah di kutip oleh Imam al-Ghazali, yaitu:
“Tiga perkara yang membinasakan yaitu: kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman(takjub) seseorang kepada dirinya sendiri (‘Ujub)”.

Lebih jauh, Syaikh Ahmad Rifa’I menukil dari pendapat Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulum al-Diin, Jilid III halaman 390-391[4], yaitu:

وَحَقِيْقَةُ الْعُجْبِ تَكَبُّرٌ يَحْصُلُ فِى الْبَاطِنِ بِتَحَيُّلِ كَمَالٍ مِنْ عِلْمٍ وَعَمَلٍ , فَإِنْ كَانَ خَائِفًا عَلَى زَوَالِهِ فَهُوَ غَيْرُ مُعْجِبٍ . وَإِنْ كَانَ يَفْرَحُ بِكَوْنِهِ نِعْمَةً مِنَ اللهِ فَهُوَ لَيْسَ مُعْجِبًا بَلْ هُوَ مَسْرُوْرٌ بِفَضْلِ اللهِ, وَإِنْ كَانَ نَاظِرًا إِلَيْهِ مِنْ حَيْثُ هُوَ صِفَةٌ غَيْرَ مُلْتَفِتٍ إِلَى إِمْكَانِ الزَّوَالِ وَلَا إِلَى الْمُنْعِمِ بِهِ إِلَى صِفَةِ نَفْسِهِ فَهَذَا الْعُجْبُ وَهُوَ مِنَ الْمُهْلِكَاتِ وَعِلاَجُهُ أَنْ يَتَأَمَّلَ فِى الْعَاقِبَةِ, وَأَنَّ بَلْعَامَ كَيْفَ خُتِمَ بِالْكُفْرِ وَكَذَلِكَ إِبْلِيْسَ, فَمَنْ تَأَمَّلَ فِى إِمْكَانِ سُوْءِ الْخَاتِمَةِ وَإِنَّهُ مُمْكِنٌ فَلاَ يَعْجُبُ بِشَيْئٍ مِنْ صِفَاتِهِ .

“Bahwa hakikat ‘ujub adalah kesombongan yang terjadi dalam diri seseorang karena menganggap adanya kesempurnaan amal dan ilmunya. Apabila seseorang merasa takut kesempurnaan (ilmu dan amalnya), itu akan dicabut oleh Allah, maka berarti ia tidak bersifat ‘ujub.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda;
“kalian saksikan orang-orang mukmin saling menyayangi, saling mencintai & saling berbuat baik, bagai satu tubuh yang apabila ada bagian yang sakit, maka seluruh tubuh tak bisa tidur & turut merasa sakit.”

wallahu tabaraka wa ta’ala a’lam

love and respect,
wassalamualaikum warahmatullah

One Response to “Merasa diri paling mulia…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: