Syukur nikmat dengan berbakti kepada orangtua…

berbakti-kepada-orang-tua-ilustrasi-_120212200936-347

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Artinya: Dan Kami wasiatkan (perintahkan) kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah serta menyapihnya dalam dua tahun. Agar bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orangtua kalian. Hanya kepada-Ku lah kamu kembali. (Luqman: 14)

Ya Alloh… rasanya banyak sekali tingkah laku, sikap dan perbuatan yang jauh dari perintah-Mu.. salah satunya adalah bersyukur. Kadang diri ini khilaf lupa bersyukur bahkan tanpa sadar mengingkari segala nikmat yang telah Engkau berikan baik secara langsung ataupun orang lain, jangan jauh-jauh dulu,… nikmat yang diberikan melalui orantua.. malu atas apa yang dimiliki orangtua sehingga tidak menuruti orangtua.. astagfirullahal’adzim..

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَاناً

Artinya: Dan rabb-mu telah memerintahkan agar kalian jangan beribadah kecuali kepada-Nya, dan berbuat baiklah kepada kedua orangtua. (Al Isra’:23)

Hal ini membuktikan, bahwa berbuat baik (berbakti) kepada orangtua merupakan perkara yang pertama dan terpenting -di dalam urusan hablum minannas- setelah mentauhidkan ALLAH.

Apa yang ALLAH SWT firmankan melalui wasiat Luqman ini merupakan dalil wajibnya -bagi kita- untuk berbakti kepada kedua orangtua sekaligus dalil wajibnya -bagi kita- untuk mendidik anak-anak kita agar mereka menjadi anak yang berbakti kepada orangtua. Setiap diri kita -juga anak-anak kita- hendaknya mengetahui bahwa ALLAH SWT ridho kepada seorang hamba manakala hamba tersebut diridhoi orangtuanya, sebagaimana sabda Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– :

رضى الرب في رضى الوالد وسخط الرب في سخط الوالد
(مستدرك الحاكم: و هذا حديث صحيح على شرط مسلم ولم يخرجاه)

Ridho ALLAH mengikuti ridho orang tua, dan kemurkaan ALLAH mengikuti kemurkaan orangtua.

Kemudian, setiap diri kita -juga anak-anak kita- hendaknya mengetahui betapa berbakti kepada kedua orangtua merupakan lahan ibadah yang sangat subur dan kesempatan yang sangat berharga. Sehingga merugilah manusia yang tidak mengambil kesempatan sebaik-baiknya di lahan ini.

Lebih dari itu, berbakti kepada orang dapat menjadi sebab datangnya pertolongan ALLAH SWT di saat-saat yang sangat kritis, di mana seseorang sangat membutuhkan sekali bantuan atau pertolongan seseorang. Perhatikanlah kisah salah seorang Ashabul Ghori (pemuda yang terkurung di dalam gua). Disebabkan amal sholeh kepada kedua orangtua- nya selamatlah ia dari musibah yang menimpanya.

Di antara bentuk berbuat baik atau berbakti kepada kedua orangtua adalah:
• Berkata dengan lemah lembut
• Senantiasa mematuhinya di dalam hal perkara yang bukan ma’shiyat.
• Senantiasa jujur kepadanya.
• Berusaha membahagiakannya.
• Meringankan bebannya.
• Melayani dan mengutamakannya di atas selain mereka.
• Pandai berterima kasih dan merasa cukup atas pemberian mereka.
• Senantiasa mendo’akannya.
• Menjaga silaturahmi dengan teman/ karabat orang tua sepeninggal mereka.

Dan masih banyak lagi…

Maka ketika Luqman mewasiatkan anaknya agar berbakti kepada kedua orangtua setelah mewasiatkan mereka agar mentauhidkan ALLAH,  itu artinya bahwa dosa terbesar yang dilakukan di antara sesama manusia adalah durhakanya anak kepada kedua orangtuanya, sebagaimana dosa terbesar yang dilakukan manusia terhadap ALLAH adalah menyekutukan-Nya…. na’udzubillah…

Ada sedikit contoh perbuatan yang mengarah kepada kedurhakaan kepada orangtua :

Berkata Kasar kepada Orangtua.

Kadang orangtua membiarkan anaknya berkata atau berbicara kasar kepadanya disaat kecil, dengan harapan nanti juga kalau sudah besar akan mengerti. Ya.. mungkin kebiasaan buruk pada anak akan hilang dengan sendirinya seiring umur dan perkembangan nalarnya. Namun tidak semua. Ada pula yang kalau dibiarkan  justru semakin bertambah dan menjadi kebiasaannya.

Bagaimana seharusnya seorang anak bertutur kata kepada orangtuanya, ALLAH SWT berfirman:

فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

(Artinya: “…maka janganlah kau mengucapkan (-perkataan) Ah.. kepada keduanya, dan jangan kau hardik mereka. Dan ucapkapkan kepada mereka perkataan yang mulia.”) (Al Isra’:23)

Maka berucap kasar -seperti Ah..,Uh.., Chk– , meninggikan suara, atau mengeraskannya merupakan bentuk-bentuk kedurhakaan kepada mereka. Maka kewajiban bagi orangtua untuk membiasakan anak sejak kecil untuk berkata halus dan merendahkan suara di hadapan orangtua.

Membantah Orangtua

Terkadang tanpa disadari kita membiarkan anak membantah kita -orangtua-, yakni manakala mereka tak mendengar nasihat dan arahan kita, atau tidak mengerjakan perintah kita. Dan semua bentuk bantahan ini tidak lain adalah wujud kesombongan anak di hadapan orangtua, merasa lebih pintar dan lebih tahu apa yang harus dilakukan atau diperbuat. Apa salah atau susahnya mereka mendengar dan menta’ati kita di dalam hal yang tidak bertentangan dengan syari’at ? Padahal ALLAH SWT- mewajibkan seorang anak untuk merendahkan diri di hadapan orangtuanya:

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ

(Artinya: “…dan rendahkanlah dirimu di hadapan mereka dengan penuh kasih sayang…”) (Al Isra’:24)

Imam Al Qurtubi –rahimahullah– berkata (di dalam Al Jami’ Li Ahkaamil Qur’an): “Termasuk ‘Uquuq (durhaka) kepada orangtua adalah menyelisihi / menentang keinginan-keinginan mereka dari (perkara-perkara) yang mubah, sebagaimana Al Birr (berbakti) kepada keduanya adalah memenuhi apa yang menjadi keinginan mereka. Oleh karena itu, apabila salah satu atau keduanya memerintahkan sesuatu, wajib engkau mentaatinya selama hal itu bukan perkara maksiat, walaupun apa yang mereka perintahkan bukan perkara wajib tapi mubah pada asalnya…”

Maka, membantah orang tua tanpa alasan yang dibenarkan oleh syari’at merupakan bentuk kedurhakaan kepada orangtua. Dan kita tidak boleh membiarkan anak berlaku demikian kepada orangtua.

Tidak Memenuhi Panggilannya.

Manusia adalah makhluq sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Mereka harus tolong-menolong di dalam memenuhi kebutuhannya. Di dalam sebuah keluarga pun demikian. Adakalanya, bahkan sering mungkin orangtua memerlukan bantuan atau pertolongan anak untuk memenuhi hajatnya. Maka, menjawab dan memenuhi panggilan orangtua merupakan di antara perbuatan berbakti kepada mereka, sedangkan melalaikannya adalah perbuatan durhaka.

Orantua hendaknya sering memanggil mereka -untuk keperluan ini dan itu- ketika mereka sedang di dalam kesibukannya, apalagi kalau hanya bermain, di dalam rangka melatih mereka menjawab panggilan orangtua, melatih kesigapan mereka memenuhi permintaan orangtuanya.

Mencerca dan Mempermalukan Orangtua

Setiap anak wajib memuliakan orangtua dan menjaga kehormatannya, sebagai wujud baktinya kepada mereka. Maka merendahkan orangtua dan mempermalukannya merupakan perbuatan yang durhaka.

Hanya saja banyak yang melakukannya tanpa mereka sadari. Mereka tidak menyadari bahwa mereka -dengan perbuatan atau kelakuannya- telah menjadi sebab dicercanya orangtua mereka dan dipermalukan. Perhatikanlah hadits berikut ini:

عن عبد الله ابن عمرو عن النبي صلى الله عليه وسلم قال :إن من أكبر الذنب أن يسب الرجل والديه
قالوا : وكيف يسب الرجل والديه
قال : يسب أبا الرجل فيسب أباه ويسب أمه فيسب أمه. (رواه أحمد)

Dari Abdullah bin Amr, dari Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-, berkata, “Sesungguhnya, termasuk perbuatan dosa besar itu antara lain seseorang mencerca orangtuanya.” Para Sahabat bertanya, “Bagaimana mungkin seseorang itu sampai mencerca orangtuanya?‘ Beliau menjawab, “Ia cerca bapak seseorang, sehingga seseorang itu pun balik mencerca bapaknya. Ia cerca ibu seseorang, sehingga orang itu balik mencerca ibunya.”

Maka hendaknya orang tua mengingatkan anak, bahwa manakala mereka mencerca, menghina, atau mempermalukan orang tua temannya itu artinya ia telah mendurhakai orang tuanya sendiri.

Membohongi dan Menyusahkan Perasaan Orangtua

Membohongi orangtua dan menyusahkan perasaannya tentu merupakan suatu kedurhakaan yang dapat mengakibatkan penderitaan berkepanjangan bagi pelakunya di dunia. ALLAH SWT telah mengisahkan perbuatan ini di dalam kisah Nabi Yusuf AS, bagaimana saudara-saudara Yusuf AS membohongi ayah mereka (Ya’qub AS), bagaimana duka cita ayahnya, dan bagaimana penderitaan berkepanjangan yang mereka alami, yang hanya melalui permohonan ampun dari orangtua mereka sajalah ALLAH SWT akan mengampuni perbuatan durhaka tersebut.

قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ () قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

(Artinya; Mereka (anak-anak Ya’qub) berkata, “Wahai ayah kami, mohonkanlah (-kepada ALLAH-) ampunan bagi kami atas dosa-dosa kami. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.” (-Ya’qub-) berkata, “Aku akan memohonkan ampunan bagi kalian. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”) (Yusuf : 97-98)

Maka hendaknya orangtua mengawasi anak-anak dari kebiasaan berbohong. Sampaikan kepada mereka akan durhakanya perbuatan tersebut serta nasihatkan mereka untuk tidak berbohong, terutama kepada orangtua. Ajarkan mereka terbiasa berterus terang kepada orangtuanya serta waspadailah jika mereka mulai mencoba-coba berbohong kepada orangtua.

Membebani Orangtua dan Memperbudaknya

Merupakan hak yang layak diperoleh orangtua dari anaknya, yakni dilayani dan diringankan bebannya. Maka apabila seoarang anak tidak melayani dan tidak meringankan beban orangtuanya, bahkan sebaliknya, ia minta dilayani dan membebani orangtuanya, anak tersebut telah melakukan perbuatan durhaka terhadap orangtuanya.

Kedurhakaan model ini merupakan satu di antara tanda-tanda akhir zaman -yang telah kita rasakan sekarang. Rasulullah SAW mengatakan demikian ketika bersoal jawab dengan Malaikat Jibril:

قال: فأخبرني عن الساعة
قال: “ما المسؤول عنها بأعلم من السائل”
قال: فأخبرني عن أمارتها.
قال: “أن تلد الأمة ربتها. ….”

(Jibril) bertanya. “Beritakan kepadaku tentang Hari Kehancuran !” (Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam-) menjawab, “Tidaklah yang ditanyai lebih mengetahui dari yang bertanya.” (Jibril) kembali bertanya, “Beritakan kepadaku tentang tanda-tandanya !” (Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam-) menjawab, “Budak wanita melahirkan majikannya….” (HR; Muslim)

Di antara ungkapan Nabi –Shallallahu alaihi wa salla– “Budak wanita melahirkan majikannya…” (-sebagaimana dijelaskan Al Hafidz Ibnu Hajar –rahimahullah– di dalam Al Fath-) adalah terjadinya banyak kedurhakaan, di mana anak memperlakukan ibunya seperti seorang tuan terhadap budaknya. Bukannya anak yang melayani dan meringankan beban orang tuanya, tetapi sebaliknya. Orangtua disuruh ini dan itu, dititipi cucu, jaga rumah, dan sebagainya dari kebiasaan pekerjaan-pekerjaan pembantu. Dan ini merupakan bentuk-bentuk kedurhakaan.

Maka hendaknya orangtua berhati-hati terhadap munculnya gejala kedurhakaan pada anak dengan tidak memanjakan mereka.

Tidak Berterima Kasih atas Pemberian Orangtua

Berterima kasih kepada orangtua merupakan kewajiban setiap anak. Bahkan perbuatan tersebut ALLAH SWT gandengkan dengan bersyukur kepada-Nya.

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

(Artinya: “…agar engkau bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua orang tua kalian...”) (Luqman: 14)

Bahkan belumlah seseorang dikatakan bersyukur kapada ALLAH SWT sebelum ia mampu berterima kasih kepada sesama manusia, sebagaimana sabda Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– :

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (من لا يشكر الناس لا يشكر الله) .
هذا حديثٌ صحيحٌ.

Dari Abu Hurairah –radhiallahu anhu-, berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam-:
Tidaklah seorang (-dikatakan-) bersyukur kepada ALLAH sebelum ia (-mampu-) bersyukur kepada manusia.” (HR: At-Tirmidzi – Shohih)

Apalagi, tentunya, jika tidak berterima kasih kepada kedua orangtuanya. Padahal orang tua adalah manusia yang paling dekat dan paling terlihat kasih sayang dan pengorbanannya. Sebagaimana Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah serta menyapihnya dalam dua tahun.. Tentu saja pengorbanan orangtua tidak hanya sampai di situ.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari -di dalam Al Adabul Mufrad– : Ketika Abdullah bin Umar –radhiyallahu ‘anhuma– melihat seorang menggendong ibunya untuk tawaf di Ka’bah dan ke mana saja ibunya menginginkan, orang tersebut bertanya kepadanya,

Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini apakah aku sudah membalas jasa ibuku.?” Abdullah bin Umar –radhiyallahu ‘anhuma– menjawab, “Belum. Setetes (-keringatnya-) pun engkau tidak dapat membalas kebaikan kedua orang tuamu.”

Dan Ibnu Abbas –radhiallahu anhu– berkata tentang firman ALLAH SWT :

أَ َنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْك

Maka, barangsiapa yang bersyukur kepada ALLAH akan tetapi dia tidak bersyukur pada kedua orangtuanya, ALLAH tidak akan menerima rasa syukurnya.”

Maka hendaknya para orangtua pun mengambil pelajaran bagaimana mendidik anak-anak mereka agar kelak menjadi anak yang bersyukur (kita bahas pada tulisan selanjutnya)

Dan masih banyak lagi bentuk kedurhakaan anak kepada orangtuanya, seperti : mendiamkan mereka, malu mengakui mereka sebagai orang tua, tidak mendo’akan mereka, mendahulukan orang lain di atas mereka, dan sebagainya. Padahal ALLAH SWT telah memerintahkan anak memperlakukan kedua orangtuanya dengan sebaik-baiknya :

وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

(…pergaulilah keduanya secara ma’ruf).

Maka hendaknya mari kita bertobat kepada ALLAH SWT, memohon ma’af kepada kedua orangtua, serta memperbaiki mu’amalah kita kepada mereka, seandainya kita telah melakukan perbuatan durhaka kepada mereka.

Okt 2013

Medi for FLV

*gambar diambil dari republika.co.id

One Response to “Syukur nikmat dengan berbakti kepada orangtua…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: