Gaji Tidak Pernah Cukup…

duit-duit-duit-uang

Baru tengah bulan, duit udah habis… Seberapa pun besarnya gaji, selalu saja habis sebelum waktunya. Padahal idealnya gaji semestinya cukup sampai gaji berikutnya tiba. Rasanya pengen banget ngadep bos, gulung lengan baju, naekin kerah, gebrak meja.. (anarkis apa jadi emon? hihihi..)
Ya.. paling singkat yang kepikiran cuma gaji udah ga cukup, harus ada kenaikan.
Naah…sebelum minta naik gaji, dipikir lagi masalahnya, berikut beberapa kemungkinan mengapa gaji ga pernah cukup.

1. Gaya hidup meningkat
Waktu pertama kali bekerja transportasi andalan adalah ojek, angkot, bis, kereta api. Setelah bekerja beberapa tahun, mungkin beralih menjadi taksi, motor pribadi, mobil pribadi. Dengan pikiran kalo naek motor lebih irit, 1liter bisa buat 1minggu (berangkat kerja bisa jalan kaki kali ya? :p), ga dihitung buat perawatan ngebengkel, pajak, stnk, belom resiko kempes, jatoh atau paling parah tabrakan. Udah rusak motor, rusak badan juga. Bila dulu tidak suka ngopi, sekarang hangout di coffee shop bersama teman-teman adalah jadwal rutin setiap weekend. Ini yang terjadi pada banyak orang.
Cyril Northcote Parkinson penulis buku Parkinson’s Law mengatakan semakin besar penghasilan seseorang maka dia cenderung meningkatkan cara dan gaya hidupnya.
Akibatnya, pengeluaran pun bertambah seiring dengan peningkatan penghasilan. Apalagi jika peningkatan pengeluaran melebihi kenaikan gaji. Misalnya gaji hanya naik 10 persen sementara pengeluaran bertambah menjadi 10-20 persen. Bila kondisinya seperti ini, seberapa besar pun gaji Anda, tidak akan pernah cukup.

2. Tiba-tiba menjadi penting
Saat terjadi kenaikan gaji biasanya yang juga naik adalah keinginan terhadap sesuatu. Padahal, ketika gaji belum naik, keinginan itu tidak muncul.
Misal, saat gaji Rp 3 juta Anda gak melirik barang/gadget tertentu karena menganggap tidak butuh dan tidak ada dana. Tapi begitu gaji naik dua kali lipat, tiba-tiba saja Anda merasa barang/gadget tersebut menjadi penting. Contoh : kalung emas dengan gantungan bulat dengan inisal nama seukuran pantat botol.. bling-bling gitu😀. Mengapa? Karena ada dana yang memungkinkan untuk membelinya. Padahal itu hanya keinginan bukan kebutuhan. Kebutuhan adalah jika kita tidak bisa produktif bila tidak memiliki suatu benda tertentu. Bila dengan gadget tersebut bisa memudahkan pekerjaan dan membuat Anda lebih produktif, boleh saja mengalokasikan dana untuk memilikinya.

bling2

3. Lebih enak dibelanjakan daripada ditabung
Niat sebelum mendapat gaji adalah menabung dan investasi, namun niat ini menguap begitu gaji sudah di tangan. Tiba-tiba saja Anda merasa sayang mengeluarkan uang untuk menyiapkan masa depan. Mau menabung? Nanti deh kalau ada sisa. Mau investasi? Sayang, bulan depan saja. Selalu ada alasan untuk menunda niat ini.
Mengapa berubah pikiran? Karena belanja jauh lebih menyenangkan daripada menabung. Ketika belanja, Anda akan mendapatkan tas, sepatu, baju dan pernak pernik lainnya. Sedangkan kalau ditabung, udah mah antri panjang, Anda tak melihat barangnya.
Memilih barang saat belanja juga memberikan kenikmatan tersendiri. Begitu menyenangkan sampai kerap tak sadar telah menghabiskan uang di dompet. Akhirnya ketika ada kebutuhan yang benar-benar penting, keuangan menipis dan merasa gaji tak pernah mencukupi kebutuhan.

4. Dihabiskan di depan
Begitu semua kewajiban atau tagihan rutin sudah dibayarkan, Anda lantas asal mengeluarkan uang. Atau begitu menerima gaji, kendali belanja jadi longgar. Di tengah bulan, Anda bisa tutup mata melihat tawaran sale, tapi begitu terima gaji, selalu ada alasan untuk membeli apa saja di depan mata. Karena harga murah, barangnya koleksi terbatas, modelnya menarik. Jika ini terjadi pada Anda, jangan heran jika gaji tidak cukup hingga ke gaji berikutnya. Contoh : kaos kaki seharga Rp.10.000/3pcs yang tadinya ga penting, begitu pegang duit serasa murah langsung borong 6pcs dengan harapan bisa ganti 1hari 1kaoskaki biar dibilang update terus…

Sock-Up

5. Kenaikan tak sebanding dengan inflasi
Kalau sudah berhemat dan mengencangkan ikat pinggang tapi gaji tak cukup juga, kemungkinan besar karena kenaikan gaji tak sebanding dengan kenaikan inflasi. Kalau kenaikan inflasi saja misalnya 15 persen, kenaikan gaji per tahunnya hanya 10 persen, jelas tidak akan mengejar kebutuhan.
Misalnya, gaji yang diterima Rp 2 juta per bulan, sementara biaya hidup juga Rp 2 juta. Begitu tahun depan harga naik, termasuk biaya transportasi, biaya hidup meningkat menjadi Rp 2,3 juta per bulan. Sementara kenaikan gaji hanya Rp 2,2 juta. Pantas saja jika gaji tak cukup.

Nah.. kira-kira mana yang sesuai dengan Anda??

3m

Medi for FLC, Nov 2013
sumber http://infobandung.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: